Donggala – Menjelang penentuan 1 Ramadhan 1443 Hijriah, Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sulawesi Tengah menegaskan Hilal tidak terlihat dari menara Ruqyahtul Hisab di Desa Marana, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, Jumat.
Kepala Kanwil Kemenag Sulteng, Ulyas Taha di Donggala, Jumat, mengatakan hasil Ruqyatul Hisab menunjukkan elongasi atau jarak antara bulan dan matahari sangat dekat sehingga membuat Hilal tidak terlihat.
“Jadi dalam posisi 3 derajat ini cahaya matahari itu sangat mempengaruhi untuk kita dalam melihat Hilal, kecuali jaraknya itu sampai 6 derajat Hilal pasti jelas terlihat karena jarak sudah jauh,” kata Ulyas usai melangsungkan Ruqyatul Hisab di Donggala.
Ia menjelaskan, hal itu turut terbukti dalam perhitungan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Palu.
“Usia bulan berdasarkan Ruqyatul Hisab ini adalah 3 jam 39 menit 16 detik, padahal standar dari Kementerian Agama itu minimal adalah 8 jam, sehingga ini tidak memenuhi standar,”
Oleh karena itu, kata dia, dalam menentukan untuk memulai puasa bulan Ramadhan1443 Hijriah, ia meminta masyarakat mengikuti hasil sidang Isbat yang dilangsungkan di Jakarta.
Di tempat yang sama, Kepala BMKG Stasiun Geofisika kelas I Palu, Jabar mengatakan pada posisi itu Hilal tidak memungkinkan untuk teramati.
“Secara kasat mata memang hari ini cerah di Donggala, tapi jika melihat dengan alat yang ada itu ini cerah berawan,” jelas Jabar.
Ia merinci pemantauan yang berdurasi 3 jam dengan menggunakan teropong itu menunjukkan iluminasi Hilal dalam Ruqyatul Hisab kali ini hanya berada pada 0,07 persen, sedangkan jika pemantauan dilakukan, Sabtu, iluminasi Hilal akan berada pada 1,13 persen.
“Oleh karena itu kita besok akan kembali melakukan pemantauan itu untuk membuktikan sehingga hari ini dalam perhitungan belum terjadi pergantian bulan,” pungkasnya.(Ant)





